Akhir-akhir ini suhu politik semakin memanas, kedua kubu mulai saling lempar bara, jika tempo hari Jokowi hanya menangkis serangan lawan, kini Jokowi mulai menunjukan gelagat menyerang, tim pemenangan Jokowi-Maruf Eric Tohir ia menyatakan bahwa saat ini adalah waktu yang tepat untuk menyerang. Seperti dilansir oleh Tempo: Erick Thohir Sebut Kini Saatnya Kubu Jokowi Menyerang
Sebagian orang menyimpulkan, pilpres 2019 adalah "Pertarungan Optimisme vs Pesimisme"Benarkah demikian? hal ini bisa saja benar lantaran sejak awal prabowo kerapkali melontarkan pernyaataan bernada kontroversi, tak salah jika sebagian orang menyimpulkan sebagai bentuk pesimisme, mulai Indonesia Bubar 2030, 99 Persen Rakyat Hidup Miskin dan yang terbaru adalah Indonesia Punah, jika Prabowo kalah dalam pilpres 2019.
Belum lama ini prabowo kembali melontarkan pernyataan kontroversialnya pada Konferensi Nasional Partai Gerindra di Sentul International
Convention Center, Bogor, Jawa Barat, pada Senin, 17 Desember 2018 "Karena itu kita tidak bisa kalah. Kita tidak boleh kalah. Kalau kita kalah, negara ini bisa punah. Karena elite Indonesia selalu mengecewakan, selalu gagal menjalankan amanah dari rakyat Indonesia," kata Prabowo saat itu.
Apa yang dikatakan oleh Prabowo pada dasarnya adalah sebuah propaganda yang oleh Garth S. Jowett dan Victoria O'Donnell, disebut sebagai upaya dengan sengaja dan sistematis, membentuk persepsi, memanipulasi pikiran, dan mengarahkan kelakuan untuk mendapatkan reaksi yang diinginkan penyebar propaganda. Apa yang dilakukan oleh prabowo adalah bagian dari strategi memenangkan pilpres 2019.
Dengan pernyataan-pernyataan kontroversialnya Prabowo sedang menggunakan salah satu dari 7 strategi propaganda yang pernah diterbitkan oleh Institute for Propaganda Analysis di New York pada tahun 1939, yaitu "Name Calling" sebuah teknik menggunakan kata-kata yang menghubungkan seseorang atau ide dengan konsep yang negatif, tujuannya untuk membuat orang menolak sesuatu karena asosiasi negatif yang melekat pada orang atau ide tersebut tanpa melihat kenyataannya.
Apakah strategi ini akan berhasil seperti yang dilakukan oleh Presiden Amerika Donald Trump? hal ini akan tergantung daripada orang yang terkena paparan penyebaran propaganda prabowo melalui media massa. semakin masif paparannya akan semakin terbuka peluang prabowo memenangkan pilpres 2019.
Perang Optimisme
Berbeda dengan Prabowo, Jokowi melekat dengan simbol optimisme, seakan menjawab tudingan-tudingan prabowo bahwa Indonesia akan bubar dan punah, Jokowi melalui pesan-pesan tersiratnya jokowi mecoba memberikan pesan kepada masyarakat tentang masa depan Indonesia. Monumen Kapsul Waktu yang telah diresmikannya di Merauke, Papua beberapa waktu silam, adalah pesan Jokowi tentang Indonesia 100 tahun yang akan datang. Kapsul waktu ini berisi mimpi dan harapan anak-anak Indonesia akan Indonesia 70 tahun mendatang, hal ini mengisyaratkan seorang Jokowi yang memiliki visi jauh ke depan menatap 100 tahun kedepan dengan rasa optimisme, dan masih ada harapan dan mimpi-mimpi anak-anak indonesia yang harus diwujudkan.
“Ide pembangunan monumen untuk menyimpan Kapsul Waktu berasal dari Presiden Jokowi pada HUT ke-70 Kemerdekaan Indonesia tahun 2015 dan akan dibuka kembali pada 70 tahun mendatang, yakni pada tahun 2085," kata Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Indonesia (Kemen PUPR RI) Basuki Hadimuljono di Merauke, Kamis (15/3/2018) lalu.
Optimisme Jokowi juga diperlihatkan dalam peluncuran buku "Menuju Cahaya, Perjalanan Karya bagi Bangsa" melalui testimoni mantan Presiden ke 3 B.J. Habibie, Indonesia melalui kepemimpinan jokowi sedang dibawa kepada Indonesia menuju terang dan cemerlang
Mereka sepak terjang kedua kandidat capres tersebut, kita dapat melihat bahwa konsep yang ditawarkan oleh kedua pemimpin yang sedang bertarung ini , sesungguhnya adalah konsep Optimisme vs Pesimisme, keduanya pada hakikatnya memiliki tujuan yang sama yaitu kejayaan Indonesia, hanya saja berbeda cara padang kedua pempin ini melihat masa depan Indonesia.
Lantas bagaimana rakyat Indonesia bersikap, tergantung anda ingin menatap masa depan dengan rasa optimis atau dengan pesimis, namun hal ini bukanlah satu-satunya alat ukur memilih pemimpin, masih ada istrumen-instrumen lain yang harus dipertimbangkan mulai dari visi-misi, rekam jejak, dan orang-orang yang berada yang berada pada lingkaran kedua kandidit capres cawapres ini.
Rakyat Adalah Oposisi Sebenar-benarnya
Berkubu dan mendukung salah satu kontestan pemilu adalah lumrah adanya, masyarakat boleh memilih pemimpin yang dipandang memiliki kredibilitas dan kemampuan memimpin negeri, namun jangan lupa bahwa kita memilih karena kita percaya, pemimpin yang kita pilih mampu melaksnakan apa yang menjadi cita-cita pendiri dan bangsa Indonesia
dan pada akhirnya ketika pemilu telah usai dan kita mendapati pemimpin baru, kita harus tetap menjadi oposisi, menjadi orang yang terus mengingatkan pemimpin pilih agar ia tidak lupa dengan visi-misinya dan program kerjanya.
Seorang oposisi harus mengawal dan memastikan pemimpin negeri ini bekerja sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia, seorang pemimpin belum dianggap berhasil jika terwujud keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. (Junianto Bara)
Mereka sepak terjang kedua kandidat capres tersebut, kita dapat melihat bahwa konsep yang ditawarkan oleh kedua pemimpin yang sedang bertarung ini , sesungguhnya adalah konsep Optimisme vs Pesimisme, keduanya pada hakikatnya memiliki tujuan yang sama yaitu kejayaan Indonesia, hanya saja berbeda cara padang kedua pempin ini melihat masa depan Indonesia.
Lantas bagaimana rakyat Indonesia bersikap, tergantung anda ingin menatap masa depan dengan rasa optimis atau dengan pesimis, namun hal ini bukanlah satu-satunya alat ukur memilih pemimpin, masih ada istrumen-instrumen lain yang harus dipertimbangkan mulai dari visi-misi, rekam jejak, dan orang-orang yang berada yang berada pada lingkaran kedua kandidit capres cawapres ini.
Rakyat Adalah Oposisi Sebenar-benarnya
Berkubu dan mendukung salah satu kontestan pemilu adalah lumrah adanya, masyarakat boleh memilih pemimpin yang dipandang memiliki kredibilitas dan kemampuan memimpin negeri, namun jangan lupa bahwa kita memilih karena kita percaya, pemimpin yang kita pilih mampu melaksnakan apa yang menjadi cita-cita pendiri dan bangsa Indonesia
dan pada akhirnya ketika pemilu telah usai dan kita mendapati pemimpin baru, kita harus tetap menjadi oposisi, menjadi orang yang terus mengingatkan pemimpin pilih agar ia tidak lupa dengan visi-misinya dan program kerjanya.
Seorang oposisi harus mengawal dan memastikan pemimpin negeri ini bekerja sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia, seorang pemimpin belum dianggap berhasil jika terwujud keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. (Junianto Bara)



