![]() |
| Nadime Makarim, Mantan CEO Gojek / Mendikbud RI |
Bahkan Anies Baswedan merasa tugas sebagai Mendikbud telah tuntas, namun sejatinya dia meninggalkan pekerjaanya dengan berbagai persoalan yang ada, yang sangat komplek dan belum sempat terurai. Begitupun juga dengan Mendikbud Muhadjir Effendy, di dua tahun kepemimpinanya, prestasi yang paling melekat darinya adalah perubahan sistem zonasi yang juga masih meninyisakan pro dan kotra dikalangan orang tua murid. Sistem zonasi pun memunculkan berbagai persoalan di daerah-daerah.
Melalui Naskah Pidato yang diedarkan oleh @Kemdikbud_RI pada momentum Haru Guru, kita menerka-nerka menuggu apa "gebrakan" Nadiem Makarim untuk pendidikan Indonesia, kita tentu berharap Naskah pidato yang "menyentuh" itu tidak hanya sekedar retorika belaka seperti yang diungkapkannya. Kita berharap Mendikbud Nadiem Makarim tidak berakhir seperti menteri-menteri sebelumnya membuat kurikulum baru sistem pembelajaran si kelas tidak berubah.
Kita semua sepakat bahwa tujuan pendidikan di Indonesia adalah menciptakan SDM-SDM yang unggul, produktif dan inovatif dan berdaya saing, seperti yang pernah dikemukakan oleh Mendikbud pada masa Presiden SBY untuk membentuk Sumber Daya Manusia yang produktif, kreatif, inovatif dan afektif.
Sesungguhnya apa yang disampaikan oleh Mendikbud Nadiem Makarim dalam Naskah Pidatonya adalah isi kurikulim tahun 2013 yang disusun pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, bahwa metode pendidikan yang harusnya dilaksanakan adalah metode Collaborative Learning, penguatan kreativitas dan pendidikan Karakter. Namun Kurikulum hanyalah kurikulum, memasuki tahun ke 6 kurikulum dibuat, kita melihat sistem mengajar kita masih sama duduk dikelas mendengarkan, dan kemampuan siswa diukur dengan hasil nilai Ujian nasional, jika demikian terjadi terus menerus mana mungkin kita mampu memperoleh SDM yang inovative dan produktif serti yang dicita-citakan pendidikan kita.
Kita Masih menunggu gebrakan Nadiem Makarim sebagai Mendikbud RI, menunggu untaian kata menjadi karya nyata, misal seperti pernyataanya "
Kedua : Sistem pembelajaran kita tidak lagi hanya dalam kelas, apa implementasi peryataan
Kita Masih menunggu gebrakan Nadiem Makarim sebagai Mendikbud RI, menunggu untaian kata menjadi karya nyata, misal seperti pernyataanya "
Potensi anak tidak dapat diukur dari hasil ujian"Apakah nantinya akan dibuat kebijakan bahwa sistem Ujian nasional akan ditiadakan dan diganti dengan ujian praktek lapangan
Kedua : Sistem pembelajaran kita tidak lagi hanya dalam kelas, apa implementasi peryataan
"Anda ingin mengajak murid keluar kelas untuk belajar dari dunia sekitarnya, tetapi kurukumum yang begitu padat menutup pintu petualangan."
Apakah mendikbud akan mengubah sistem pembelajaran kita menjadi SKN (Sekolah Kerja Nyata) yang tidak terikat dengan kurikulum, jika demikian kurukulum pun harus berubah. seorang guru tidak akan mungkin melakukan itu jika tidak ada aturan yang jelas. karenanya jika hal ini tidak dibarengi dengan payung hukum dan perubahan kurikulum sejatinya naskah pidato Menteri Nadiem Makarim adalah retoris.
"Anda Frustasi karena Anda tahu bahwa di dunia nyata kemampuan berkarya dan berkolaborasi akan menentukan kesuksesan anak, bukan kemampuan menghafal.
Kita berharap pernyataan ini adalah langkah awal membenahi pendidikan kita yang sayang formal menjadi pendidikan berbasis karya, seperti Gojek yang pernah dibangunnya, bagaimana membentuk siswa menjadi siap bersaing dan berkarya nyata, apakah nantinya anak-anak akan diajakan coding, dengan mengimplementasikan lingkungan kerja startup kedalam lingkungan sekolah. bagaimana dengan infrastruktunya, tentunya untuk dapat mewujudkan siswa yang siap berkarya harus dibarengi dengan infrasturuktur yang memadai, jika tidak Pidato menyentuh Mendikbud Nadiem Makarim juga hanya sekedar retoris.
Kita sangat menunggu bahwa Menteri Nadiem Makarim tidak hanya mengucapkn janji-janji kosong seperti dalam naskah Pidatonya
#Junintobara
Tags:
Editor Notes

